Minggu, 14 November 2010

ISD 4 "Artikel Bencana Alam 1 => Tema : Tanah Longsor-Gowa Jeneponto "

TANAH LONGSOR GOWA-JENEPONTO

Selasa, 26 Oktober 2010 00:28 WIB | Peristiwa | Umum | Dibaca 715kali Sungguminasa, Sulsel (ANTARA News)
Dua korban bencana tanah longsor yang terjadi di perbatasan Kabupaten Gowa-Jeneponto, Sulawesi Selatan, Senin hingga kini belum ditemukan.
Kedua korban itu yakni Muis bin saleh (20) dan syarif bin saleh (18) yang juga warga desa Datara, kecamatan Biringbulu, Kabupaten Gowa.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, aparat kepolisian Resor Kota Gowa dibantu tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) Gowa bersama dengan tim pencari dan penyelamat (SAR) Universitas Hasanuddin (Unhas) masih berusaha melakukan pencarian terhadap kedua korban yang hilang akibat hantaman longsor tersebut. Kapolresta Gowa, AKBP Totok Lisdianto, SIK menyatakan, dirinya sudah memerintahkan anggotanya yang berkoordiasi bersama Tim Tagana Gowa serta tim SAR Unhas melakukan pencarian korban yang dinyatakan hilang. Dikatakannya, pencarian terhadap keduanya akan dilakukan hingga 3 hari berikutnya.untuk memperkuat pencarian itu, tim Tagana Detasemen A Brimob Pabaeng-baeng Polda Sulselbar akan bergabung pada selasa (26/10).
“untuk memaksimalkan pencarian, kita akan mengerahkan bantuan Tagana Brimob dan dengan bantuan ini diharapkan agar kedua korban bisa segera ditemukan,” jelasnya.
Dia menuturkan, berdasarkan keterangan saksi mata, diduga kedua korban terseret arus sungai Esere yang berada tidak jauh dari lokasi kebun korban karena korban terlihat terakhir kali terjatuh akibat terpaan longsor ke sungai Esere.
Menurutnya, terdapat sepuluh lokasi longsor yang menutup akses jalan poros Tompobulu dan Biringbulu serta jalan menuju kabupaten Janeponto. Delapan diantaranya terdapat pada kecamatan Biringbulu, selebihnya terdapat di Kecamatan Tompobulu. (MH/K004).

Menurut pendapat saya
Terjadinya longsor diakibatkan karena struktur dari tanah yang labil. Apabila berkontaminasi dengan air dapat mengakibatkan pergeseran dari tanah. Ini dikarenakan juga manusia yang kurang merawat alam. Seperti penebangan pohon secara liar yang mengakibatkan erosi dan terjadi banjir. Saya berharap kepada penduduk Tompobulu yang menetap di setiap lereng gunung untuk waspada serta menghindari kemungkinan terjadinya longsoran tanag. Pemerintah juga harusnya menanggapi dan memberi larangan bagi para penduduk yang bermukim di lereng gunung yang tidak sesuai dengan jarak aman untuk bermukim/ bertempat tinggal di lereng gunung ( safety distance)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar